Kebetulan?
“Kebetulan”,
suatu kata yang banyak didefinisikan oleh banyak orang yang berarti “tidak
sengaja”. Menurutku, itu adalah cara Tuhan untuk membiarkan kita tahu sesuatu
tanpa kita sadari awal mulanya.
Aku
inget ada orang yang pernah menulisakan “jika kita mempelajari kehidupan, tidak
ada hal yang terjadi secara kebetulan”. Aku tak peduli berapa banyak definisi
“kebetulan” yang disampaikan oleh orang orang. Kebetulan menurutku itu bertemu
denganmu. Bukan, tepatnya melihatmu. Aku percaya itu adalah cara Tuhan
menyayangiku, yaitu dipertemukan aku denganmu.
Seketika
aku berpikir, bidadari mana yang siang bolong jatuh dari khayangan? Ah tadi itu
cuman penggunaan kata yang dilebih lebihkan.
Pada
waktu itu mata kita tak saling memukul, melainkan “aku melihatmu, kamu tak
melihatku”. “one target specification” hati bersuara. Naluri lelaki, kata para
lelaki.
Aku
mulai menjadi spy-mu tanpa orang sadari. Twitter, facebook, dan lain lain. Tiba
tiba aku seperti “Sherlock Holmes.”
Dari
pin BB yang aku dapet dari temenku aku mulai memainkan sapaku. Aku emang jarang
berkenalan langsung. Bukan tidak berani, terkadang sesuatu yang menurut orang
lain penting, itu belum terlalu penting menurutku. Seperti kenalan langsung.
Menyambar
pm kamu, dp kamu, sampai hae-ku ke kamu itu yang biasa aku lakuin. Sesuatu
terasa menyenangkan di awal dan menyengsarakan di akhir, itu kata orang orang.
“who’s care?”.
Dari
sekian banyak chat pendek kita, berubah menjadi harmonis. Meretas semua
kejanggalan diantara kita.
Dari
sekian hal yang aku cari tau tentang kamu, faktanya aku gak tau hal penting
yang menempel di kamu. “Ketakutan”.
Ah
iya aku ingat, menurut beberapa orang, pada saat ngedate pertamalah seseorang
bisa diterkuak. Muncul beberapa hipotesis di benak kita akan sifat dan sikap
terhadap lawanya. Ah, apa peduliku. Aku ya aku, menutupi sesuatu adalah
hal yang sia sia. Bukanya kalian sendiri menyadari bahwa kalau kita apa adanya
menjadikan kita lebih rileks dan nyaman?
Ceritaku
akan lama, batinku seraya mebuatku tersenyum. Sama ketika aku bertemu denganmu
secara langsung. Gak kuat kalo gak senyum. Seperti gila.
Perbincangan
pertama kita ditemani rintik hujan yang lumayan deras. Hawa dingin kalah dengan
obrolan hangat dan singkat kita. Beberapa canda tawa menghiasi waktu kita.
Namanya juga lagi berbunga, apa ada orang pada saat berbunga justru sengsara?.
Ada, beda situasi dan kondisi.
Aku
tak peduli berapa pasang mata yang melihat kita bersama, menguping obrolan
kita. Bagiku, pada saat kita bersama, orang lain adalah sesuatu untuk tidak
diperdulikan kita. Jahat bener yah aku ini.
Hari
berlalu tanpa permisi dulu. Sesuatu harus segera terjadi, pikirku. Ternyata
benar, hari dimana aku menyatakan sejumlah kalimat kepadamu datang juga, kau
tersenyum, kulihat kau bahagia. Yah, walaupun gak seromantis di film film, ini
aku adanya.
Dalam
jenggal waktu yang tidak terlalu lama kita mulai “akrab” dengan satu sama lain.
Ah menyenangkan. Candaku.
Ternyata
aku salah, deduksiku salah. Aku hanya terbawa suasana tanpa melihat lingkungan.
Tanpa tersadari oleh pikiran bahwa kamu adalah hal tersulit yang aku mulai
pelajari.
Terjadi
sebuah kejanggalan, seperti adat dalam setiap hubungan. Ah tapi ini beda,
aku merasakan sesuatu yang buruk. Pikiran-pikiran negatifku bermunculan tanpa
berhenti. Tepat dimana aku jauh darimu, kamu membiarkan aku sendiri dengan
sepi. Kamu tahu rasanya?
Akhirnya
sepercik cahaya muncul dalam gelap. Aku tersenyum, mengabaikan hal yang terjadi
padamu. Tanpa aku pedulikan ini itu.
Waktu
kian menari-nari tanpa henti, memintaku untuk tetap menyayangimu. Begitulah
kira-kira aku lakukan.
Sejengkal
waktu dalam hitungan hari ketakutanku tumbuh lagi, memprediksi apa yang akan
terjadi selalu muncul tanpa disuruh. Seakan otakku secara otomatis bergerak
untuk berfikir.
Akhirnya,
hari itu datang. Hari dimana kemungkinan terburukku terjadi.
Tapi?
Ada cerita dibalik itu. Hanya aku dan temen temen terdekatku yang tahu.
Ah
senangnya menjalin hubungan. Tanpa disadari aku mulai membaca matamu, melihat
yang apa yang terjadi padamu.
Dan
pada akhirnya, setiap awal harus menerima adanya akhir.
0 komentar:
Posting Komentar