Sabtu, 02 November 2013

Kebetulan?

Kebetulan?

“Kebetulan”, suatu kata yang banyak didefinisikan oleh banyak orang yang berarti “tidak sengaja”. Menurutku, itu adalah cara Tuhan untuk membiarkan kita tahu sesuatu tanpa kita sadari awal mulanya.

Aku inget ada orang yang pernah menulisakan “jika kita mempelajari kehidupan, tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan”. Aku tak peduli berapa banyak definisi “kebetulan” yang disampaikan oleh orang orang. Kebetulan menurutku itu bertemu denganmu. Bukan, tepatnya melihatmu. Aku percaya itu adalah cara Tuhan menyayangiku, yaitu dipertemukan aku denganmu.

Seketika aku berpikir, bidadari mana yang siang bolong jatuh dari khayangan? Ah tadi itu cuman penggunaan kata yang dilebih lebihkan.

Pada waktu itu mata kita tak saling memukul, melainkan “aku melihatmu, kamu tak melihatku”. “one target specification” hati bersuara. Naluri lelaki, kata para lelaki.

Aku mulai menjadi spy-mu tanpa orang sadari. Twitter, facebook, dan lain lain. Tiba tiba aku seperti “Sherlock Holmes.”

Dari pin BB yang aku dapet dari temenku aku mulai memainkan sapaku. Aku emang jarang berkenalan langsung. Bukan tidak berani, terkadang sesuatu yang menurut orang lain penting, itu belum terlalu penting menurutku. Seperti kenalan langsung.

Menyambar pm kamu, dp kamu, sampai hae-ku ke kamu itu yang biasa aku lakuin. Sesuatu terasa menyenangkan di awal dan menyengsarakan di akhir, itu kata orang orang. “who’s care?”.

Dari sekian banyak chat pendek kita, berubah menjadi harmonis. Meretas semua kejanggalan diantara kita.

Dari sekian hal yang aku cari tau tentang kamu, faktanya aku gak tau hal penting yang menempel di kamu. “Ketakutan”.

Ah iya aku ingat, menurut beberapa orang, pada saat ngedate pertamalah seseorang bisa diterkuak. Muncul beberapa hipotesis di benak kita akan sifat dan sikap terhadap lawanya. Ah, apa peduliku. Aku ya aku, menutupi  sesuatu adalah hal yang sia sia. Bukanya kalian sendiri menyadari bahwa kalau kita apa adanya menjadikan kita lebih rileks dan nyaman?

Ceritaku akan lama, batinku seraya mebuatku tersenyum. Sama ketika aku bertemu denganmu secara langsung. Gak kuat kalo gak senyum. Seperti gila.

Perbincangan pertama kita ditemani rintik hujan yang lumayan deras. Hawa dingin kalah dengan obrolan hangat dan singkat kita. Beberapa canda tawa menghiasi waktu kita. Namanya juga lagi berbunga, apa ada orang pada saat berbunga justru sengsara?. Ada, beda situasi dan kondisi.

Aku tak peduli berapa pasang mata yang melihat kita bersama, menguping obrolan kita. Bagiku, pada saat kita bersama, orang lain adalah sesuatu untuk tidak diperdulikan kita. Jahat bener yah aku ini.

Hari berlalu tanpa permisi dulu. Sesuatu harus segera terjadi, pikirku. Ternyata benar, hari dimana aku menyatakan sejumlah kalimat kepadamu datang juga, kau tersenyum, kulihat kau bahagia. Yah, walaupun gak seromantis di film film, ini aku adanya.

Dalam jenggal waktu yang tidak terlalu lama kita mulai “akrab” dengan satu sama lain. Ah menyenangkan. Candaku.

Ternyata aku salah, deduksiku salah. Aku hanya terbawa suasana tanpa melihat lingkungan. Tanpa tersadari oleh pikiran bahwa kamu adalah hal tersulit yang aku mulai pelajari.

Terjadi  sebuah kejanggalan, seperti adat dalam setiap hubungan. Ah tapi ini beda, aku merasakan sesuatu yang buruk. Pikiran-pikiran negatifku bermunculan tanpa berhenti. Tepat dimana aku jauh darimu, kamu membiarkan aku sendiri dengan sepi. Kamu tahu rasanya?

Akhirnya sepercik cahaya muncul dalam gelap. Aku tersenyum, mengabaikan hal yang terjadi padamu. Tanpa aku pedulikan ini itu.

Waktu kian menari-nari tanpa henti, memintaku untuk tetap menyayangimu. Begitulah kira-kira aku lakukan.

Sejengkal waktu dalam hitungan hari ketakutanku tumbuh lagi, memprediksi apa yang akan terjadi selalu muncul tanpa disuruh. Seakan otakku secara otomatis bergerak untuk berfikir.

Akhirnya, hari itu datang.  Hari dimana kemungkinan terburukku terjadi.

Tapi? Ada cerita dibalik itu. Hanya aku dan temen temen terdekatku yang tahu.

Ah senangnya menjalin hubungan. Tanpa disadari aku mulai membaca matamu, melihat yang apa yang terjadi padamu.

Dan pada akhirnya, setiap awal harus menerima adanya akhir.



0 komentar:

Posting Komentar